Sebagaimana yang telah dibahas pada artikel sebelumnya tentang konsep dasar basis data, telah kita ketahui bahwa karakteristik basis data berbeda jauh dengan sistem berkas. Ditambah lagi dengan adanya DBMS (database management system) membuat kemampuan basis data menjadi lebih handal dalam pengelolaan data.
Pada artikel ini akan dibahas jenis operasi apa saja yang bisa kita lakukan terhadap data dalam basis data, dan apa saja kemampuan (fitur) dari sebuah basis data. Semua hal ini dimiliki oleh setiap DBMS.
Jenis Operasi Data
Hal yang pertama akan dibahas adalah tentang jenis operasi apa saja yang kita bisa berikan terhadap data di dalam basis data. Secara umum terdapat beberapa jenis operasi pengolahan data untuk menghasilkan sebuah informasi yang bermakna, yaitu:
- Sort: pengurutan data
Sekumpulan data di dalam basis data dapat kita lakukan pengurutan terhadapnya untuk mendapatkan informasi. Sebagai contoh misalkan terdapat sekumpulan data nilai matakuliah tertentu dari semua mahasiswa yang ada di sebuah program studi. Untuk mengetahui rangking nilai setiap mahasiswa, kita dapat lakukan dengan melakukan pengurutan data (sorting). - Match: pencocokan data
Operasi ini disebut juga dengan filtering, di mana dilakukan pengecekan terhadap semua data yang memenuhi kriteria tertentu. Sebagai contoh adalah kita akan mencari data mahasiswa yang IPK nya ada di bawah 3.0. - Link: menghubungkan antar data
Beberapa data meskipun tersimpan dalam basis data yang berbeda dapat kita hubungkan atau kaitkan menjadi sebuah informasi. Sebagai contoh misalkan ada dua buah basis data, yaitu basis data akademik (pengambilan matakuliah) oleh mahasiswa, dan basis data dari sebuah sistem keuangan kampus. Meskipun kedua basis data terpisah, namun kita dapat mengkaitkan keduanya untuk mendapatkan informasi tertentu, misalnya mengetahui apakah ada mahasiswa yang mengambil mata kuliah tanpa membayar uang kuliah. - Aggregate: mengolah beberapa data untuk dihasilkan sebuah nilai
Misalkan di dalam sebuah basis data terdapat nilai matakuliah tertentu dari semua mahasiswa. Selanjutnya kita akan mencari rata-rata nilainya. Hal ini merupakan contoh penggunaan aggregate data. Contoh lainnya adalah mencari nilai maksimum dan minimum data, atau menghitung hasil jumlahan total data (sum) - Skip fields: mengabaikan beberapa kolom data
Di dalam sebuah basis data bisa terdapat beberapa tabel. Di sebuah tabel, bisa berisi beberapa buah kolom. Meskipun demikian, kita nantinya dapat mengabaikan kolom data tertentu yang tidak diperlukan ketika akan menampilkan datanya. Sebagai contoh misalkan di sebuah basis data akademik terdapat sebuah tabel untuk menyimpan data mahasiswa yang memiliki beberapa buah kolom, yaitu: NIM, nama, alamat, tempat lahir, tanggal lahir, nomor telp. Selanjutnya misalkan kita akan membuat rekap data jumlah mahasiswa berdasarkan kota asalnya. Dalam hal ini kita cukup mengolah data hanya pada kolom tertentu saja, yaitu kolom alamat. Sedangkan kolom nomor telp dan tanggal lahir bisa diabaikan. - Calculate: menghitung data
Sekelompok data dalam sebuah basis data dapat kita hitung banyaknya. Misalkan kita akan mengetahui jumlah mahasiswa aktif yang ada di sebuah program studi tertentu. - Arrange: mengatur data
Pengaturan data ini terkait dengan cara penyajian data dalam sebuah informasi. Meskipun urutan kolom data dalam sebuah tabel sudah ditentukan atau didefinisikan sebelumnya ketika membuat basis data, namun urutan kolom tersebut masih bisa diubah/diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan ketika membuat laporan/report.
Fitur Basis Data
Selanjutnya kita akan membahas tentang fitur apa saja yang ada di dalam sebuah basis data.
Self-describing System
Basis data tidak hanya berfungsi hanya menyimpan data saja, namun di dalam basis data juga terdapat metadata yang berfungsi untuk menjelaskan hubungan antar data atau hubungan antar tabel. Hal inilah yang menyebabkan basis data disebut self-describing system, atau sebuah sistem yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang apa yang tersimpan di dalamnya.
Hal ini berbeda dengan sistem berkas, di mana di dalamnya hanya digunakan untuk menyimpan data saja. Adapun metadata tersimpan dalam program atau aplikasinya.
Isolasi Program dan Data
Di sistem berkas, struktur dari data didefinisikan di dalam program atau aplikasinya. Sehingga apabila suatu saat ada perubahan dari struktur data tersebut, maka program tersebut harus dibedah dan dimodifikasi.
Berbeda dengan basis data. Struktur data didefinisikan di dalam basis datanya, bukan pada program atau aplikasi. Sehingga apabila perubahan struktur data, pengembang aplikasi cukup mengubah struktur data di basis datanya saja, dan tidak perlu mengubah kode program atau aplikasi.
Tentunya hal ini akan sangat menguntungkan dan mempercepat proses dalam pengembangan program atau aplikasi.
Mendukung Variasi View Data
Basis data menyediakan fitur yang memungkinkan membuat beberapa bentuk view data yang berbeda bagi setiap penggunanya. View data ini dibuat menyesuaikan dari kebutuhan data si pengguna atau sistem lainnya.
Mendukung Multiple Access
Sebuah basis data didesain supaya dapat diakses oleh banyak pengguna maupun aplikasi. Dalam satu waktu yang bersamaan, beberapa pengguna atau aplikasi dapat mengakses data yang sama. Fitur ini dinamakan concurrency control. Melalui fitur ini, validitas dan integritas data di dalam basis data akan selalu terjamin.
Kontrol Terhadap Redundansi Data
Tujuan awal dari basis data adalah sebisa mungkin mengurangi adanya redundansi data atau kemubadziran data. Meskipun demikian, terkadang di kasus tertentu redundansi data ini tidak bisa dihindari dengan tujuan untuk meningkatkan performa dari suatu sistem. Dengan basis data, redundansi data ini dapat dikontrol dengan mudah melalui proses desainnya.
Validasi Data
Untuk menjamin integritas data yang tersimpan dalam basis data, diperlukan proses validasi terhadap data tersebut ketika akan disimpan di dalamnya. Basis data memiliki fitur ini, di mana kita bisa memberikan mekanisme validasi terhadap data yang akan diinputkan ke dalam basis data tersebut. Sebagai contoh misalkan suatu data di dalam basis data didefinisikan bertipe data bilangan. Apabila data yang akan diinputkan bukan suatu bilangan, maka secara otomatis basis data akan menolaknya.
Pembatasan Hak Akses
Sebuah basis data dilengkapi dengan fitur untuk membatasi hak akses dari pengguna atau aplikasi. Hal ini ditujukan untuk keperluan keamanan data, supaya mencegah aksesibilitas pengguna yang tidak berhak terhadap data tersebut.
Kemampuan Backup dan Restore
Jaminan ketersediaan data adalah merupakan suatu hal yang penting dalam sebuah sistem informasi. Dalam hal ini keberadaan data adalah sangat penting, sehingga jangan sampai data itu hilang atau rusak. Untuk mencegah hal itu, basis data dilengkapi oleh fitur backup dan restore. Apabila suatu saat data tersebut hilang atau rusak, maka dapat dengan mudah dan cepat data itu kembali tersedia.
Referensi:
- Watt, A. and N. Eng. (2014). Database Design – 2nd Edition. Victoria, B.C.: BCcampus (under a Creative Commons Attribution by 4.0 International License). Retrieved from https://open.umn.edu/opentextbooks/textbooks/354
- Abdul Kadir. (2009). Dasar Perancangan dan Implementasi Database Relasional. Penerbit Andi

